Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

LAM LUM LAM: Quo Vadis Batak na Raja?

LAM LUM LAM: Quo Vadis Batak na Raja?
LAM LUM LAM: Quo Vadis Batak na Raja?
by: Albiner Siagian

Masihkah kita layak menyebut orang Batak sebagai Anak/Boru ni Raja? Marilah kita renungkan bersama!

Kurun satu tahun belakangan ini, terutama ketika cakrawala media sosial diramaikan oleh akun berpenghasilan itu, tabiat aneh para netizen bermunculan. Saya sebut aneh karena bagi saya tabiat itu sangat tak lazim. Sebut saja, ucapan-ucapan kotor (manghelai) dan kasar di media sosial, sebagai contoh. Anehnya lagi, netizen membentangkan karpet merah baginya. Jadilah cakrawala media sosial 'dimeriahkan' oleh ujaran-ujaran seperti itu.

Mangasahon ndang matutung pamangan mandok hata, media sosial menjadi tempat meluapkan makian dan sumpah serapah. Bagi kebanyakan warganet, termasuk orang Batak, ada semacam perasahaan berhak untuk menyatakan apapun, termasuk hujatan kepada siapapun yang menurut mereka tak sesuai dengan yang diinginkannya. Dengan melakukan itu, justru mereka marasa bahwa mereka adalah pembela kebenaran dan keadilan. Padahal, itu adalah salah satu bentuk sesat nalar. Yang menarik sekaligus menyedihkan, perilaku itu tak berbeda menurut latar belakang pendidikan, pun menurut umur dan profesi.

Ada netizen yang memberitakan berita duka orang lain berjilid-jilid. Beralaskan turut berdukacita, mereka memanfaatkannya untuk maraup uang. Rasa simpati dan empatinya mendadak sirna. Di tempat lain, di tempat duka, sekumpulan orang berselfiria sambil mengancungkan jempol dengan wajah senyum. Captionnya: turut berdukacita yang mendalam. Ucapan tak selaras dengan perbuatan.

Di pihak lain, ada yang memanfaatkan kepikunan orang tuanya untuk dipertontonkan kepada khalayak. Kembali, uang adalah alasannya. Etika, etiket, dan kepantasan lenyap.

Baru-baru ini ada orang yang melaksanakan adat secara tak beradat. Ada yang mengatakan 'Holiholi diallang biang, ho do na muli, hami marniang', ketika mangulosi ibotonya. Tampaknya, itu seperti lucu-lucuan saja. Akan tetapi, itu sangatlah tidak pantas. Sayangnya, khlayak menertawaninya, bagaikan mengaminkannya.

Lalu, baru-baru ini, ada tulang manguloshon uang (sebagai pengganti ulos) kepada berenya. Ai na marhuanama hita on? Quo vadis Batak na Raja? Lam lum lam ma! Malum ma, malum!

Mestinya, kita, termasuk gereja, harus merasa gerah dengan keadaan ini? Sayang, tampaknya kita merasa adem-adem saja.

Bisa kita bayangkan apa jadinya generasi kita kalau hal itu menjadi hal yang biasa saja. Apa yang kita wariskan kepada mereka?

Ayat Alkitab Pilihan:

Anda telah membaca LAM LUM LAM: Quo Vadis Batak na Raja?. Semoga iman saudara bertumbuh dan berbuah dalam kasih Yesus Kristus. Amin.

Post a Comment for "LAM LUM LAM: Quo Vadis Batak na Raja?"